SELAMAT DATANG DI WEBSITE DESA WONOREJO KECAMATAN KEDUNGJAJANG KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR 67358

Tuesday, September 11, 2012

MENYIMAK SEJARAH NYI RORO KIDUL

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul. Disebut-sebut bahwa dia adalah sosok perempuan cantik yang menguasai Pantai Selatan. Banyak versi yang beredar di masyarakat mengenaLI sosok Astral satu ini. Namun, saya sendiri tidak mengetahui secara pasti siapa dan bagaimana kisah sebenarnya di Nyi Roro Kidul. Namun, sebagai orang Jawa, saya mempercayai bahwa Nyi Roro Kidul memang ada dan erat kaitannya dengan Keraton Jogjakarta.

Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi. Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Thursday, September 6, 2012

KURSUS PRA NIKAH

Menikah bukan soal main-main dengan orientasi “ kebelet” kalau dengan orientasi ini saja yakinlah bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hal itu muncul karena letupan-letupan syahwat yang tidak bias di bendung, karenanya nabi memberikan solusi “shoum”yang berarti berpuasa bagi orang yang belum mampu untuk menikah.

Mungkin pertanyaan ini sering di kemukakan kepada anda, apalagi bila anda sudah mencukupi baik dari sisi umur, kematangan dan pekerjaan.

Menikah bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang sakral dan sebagian yang lain menganggap peristiwa yang biasa atau hanya sekedar trend saja. Menikah sebagai sesuatu yang bernilai sakral, kerena mereka meyakini bahwa pernikahan bukan hanya sebagai legalitas formal tapi sebagai awal dalam pembentukan rumah tangga atau keluarga baru.
Dan lebih jauh dari itu yaitu pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Adapun yang menganggap menikah sebagai peristiwa yang biasa dan ternd saja, mereka beranggapan bahwa pernikahan sebagai unjuk kemewahan, hanya sebagai formalitas belaka dan tentu anggapan ini jauh dari nilai sakral. Dengan anggapan seperti ini maka perceraian pun merupakan soal yang lumrah dan biasa, bahkan menjadi trend dimana bila sudah terjadi ketidak cocokan dengan pasangannya mereka tinggal mengajukan cerai ke Pengadilan.

Dalam statistik Pernikahan di Indonesia ( 2010 ) setiap tahun pernikahan yang tercatat rata – rata 2 juta pasang, ironisnya hal ini juga diikuti dengan angka perceraian yang sungguh fantastis yang mencapai rata rata 200 ribu pasang atau sekitar 10 % dari peristiwa nikah.

Menurut hemat saya, dalam pernikahan kita akan melalui 2 proses yaitu Pra Nikah dan Pasca Nikah.

Yang Pertama, Pra Nikah adalah proses awal memasuki jenjang pernikahan dimana pada masa ini anda mulai memantapkan hati untuk menikah, menetukan visi, misi dan orientasi, mempelajari aturan aturan Hukum sosial Negara dan Agama dan aturan aturan mendalam dunia rumah tangga atau keluarga kemudian baru menjatuhkan pilihan kepada siapa cinta akan di labuhkan

Jadi menikah bukan soal main – main dengan orientasi “ kebelet” sebagaimana yang saya katakan tadi, kalau hanya dengan orientasi ini saja, yakinlah bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hal itu muncul karena letupan – letupan syahwat yang tidak bisa dibendung, karenanya nabi memberikan solusi ‘ shoum” yang berarti berpuasa bagi orang yang belum mampu untuk menikah

Jadi pertanyaan kapan anda menikah? Maka alangkah baiknya bila anda sudah memahami dunia rumah tangga yang salah satu caranya adalah mengikuti kursus pra-nikah SUSCATIN / Kursus Calon Pengantin. Dalam suscatin ini anda akan diberi Wawasan baik dari segi Agama, maupun Sosial Kemasyarakatan. Semoga Bermanfaat

Wednesday, September 5, 2012

SEJARAH DESA JENGGRONG

Menurut sumber cerita dari para sesepuh Desa Jenggrong, terjadi sekitar tahun 1.870 an. Ketika itu ada 7 orang dari pulau Madura yang babat alas, dari kodisi alam tanah yang baru di bukanya banyak curam dan perbukitan terjal, sehingga sangat mungkin jalan yang melintas pun terkadang naik terjal atau menurun menukik ( seperti halnya kondisi sekarang ). Para pendatang itupun tinggal dan mengembangkan keturunan sehingga menjadi suatu komunitas yang sangat luas. Samapi kurang lebih 2 Generasi Desa yang dibukanya belum punya nama sampai suatu hari ada serombongan penjual kayu bakar yang tertatih-tatih ( ajijing / bahasa Madura ) karena beban dipundak dan tanjakan, berjalan sambil menggerutu ( agrunggung / bahasa Madura ) karena melihat kondisi alam yang naik turun. Sehingga dari kata Ajijing dan Agrunggung itulah dijadikan satu nama JINGGRUNG yang disempurnakan menjadi Jenggrong ( sampai sekarang ) sejak adipati aryawijaya memimpin Lumajang dengan gelar Minak Koncar
Para Pejabat atau Kepala Desa Jenggrong semenjak berdirinya Desa Jenggrong adalah sebagai berikut :
1. Bapak Samudro Kepala Desa Pertama
Menjabat pada tahun 1904 s/d 1925
2. Bapak Lasdinar Kepala Desa Kedua
Menjabat pada tahun 1925 s/d 1944
3. Bapak Sarkani Kepala Desa Ketiga
Menjabat pada tahun 1944 s/d 1960
4. Bapak TINAP Kepala Desa Keempat
Menjabat pada tahun 1960 s/d 1979
5. Bapak SATURI Kepala Desa Kelima
Menjabat pada tahun 1979 s/d 2000
6. Bapak SUWARNO S Pd Kepala Desa Keenam
Menjabat pada tahun 2000 s/d sekarang

Tuesday, September 4, 2012

SEJARAH DESA TEMPURSARI

Konon menurut cerita getok tular dari para tetua/ orang tua- tua yang kini telah banyak meninggal dunia, bahwa sebelum bernama desa Tempursari desa ini terkenal dengan nama TEMPURAN, ada dua versi dalam riwayat ini, yaitu dalam cerita versi pertama disebutkan bahwa pada zaman dahulu kala desa ini pernah menjadi jalan alternative para prajurit majapahityang akan menuju ke Lamajang atau ada yang menyebutkan ke Blambangan dan di Tempuran ini pernah terjadi pertempuran kecil dibawah pimpinan seorang Demang ( tidak diketahui namanya ) tetapi bekas kediaman Demang dulunya pernah ditemukan di dusun Krajan dengan ditandai sebuah pohon ARA yang besar, dan sekarang sudah tumbang dan tempat tersebut kini telah menjadi tanah pemakaman umum.
Pada cerita versi kedua TEMPURAN adalah tempat bertemunya dua sungai yang mengalir dipinggiran timur desa Tempuran ini yaitu sungai yang mengalir dari desa Klakah dan sungai yang mengalir dari desa Sruni, kedua sungai tersebut bertemu didekat dusun Krajan yang selanjutnya mengalir menuju desa Grobogan / Buk Panjang. Ditempat bertemunya kedua sungai tersebut dulunya sering digunakan tempat ritual bagi para penduduk setempat apabila musim kemarau panjang untuk memohon turunnya hujan dengan acara Sadranan atau acara Ujung.
Pada perkembangannya Tempuran pernah menjadi dua desa yaitu wilayah Blimbing dipimpin oleh seorang kepala desa yang bernama Aris dan wilayah Krajan, Ketapang, Taman, Cengkok dan Ketindan dipimpin oleh yang bernama Satu yang sangat anti dan tidak mau bekerja sama engan Belanda yang pada akhirnya pada zaman Revolusi petinggi Satu terbunuh oleh Belanda karena dikhianati oleh Cariknya sendiri yaitu carik Karto.
s telah zaman Revolusi tersbut, pada saat Indonesia medeka Tempuran telah memiliki seorang kepala desa, yaitu petinggi Mennek, dan wilayahnya sudah menjadi satu yang meliputi enam dusun, yaitu Ketindan, Cengkok, Taman, Ketapang, Krajan, dan dusun Blimbing. Dan nama TEMPURAN kini telah menjadi TEMPURSARI dengan penuh harapan walaupun pernah ditempati pertempuran warganya akan mendapatkan sari, artinya kemakmuran dan kesejahteraan mudah – mudahan Alla SWT meridhoinya Amin……………………
demikian sekelumit riwayat singkat tentang terjadinya desa TEMPURSARI
Nara Sumber Notulen

AHMAD MULYO NINGSIH

SEJARAH DESA SAWARANKULON

Pada zaman dahulu kala ada seorang pengembara yang bernama mbah YAM. Pada waktu itu ada hutan yang sangat besar, lalu mbah , lalu mbah Yam tersebut membabat hutan pada waktu itu ada seekor ular yang sangat besar namanya ular sowo lalu mbah Yam cerita pada istrinya tentang seekor ular tersebut kemudian mbah Yam memberi nama kampung/desa dengan sebutan Sawaran Kulon, lalu istrinya bertanya “ kenapa desan ini harus diberi nama sawaran kulon ? “ karena di desa ini terdapat hutan yang sangat lebat dan terdapat ular yang sangat besar dan hewan – hewan yang lainnya takut sama ular tersebut tercetuslah nama sawaran kulon oleh mbah Yam.
Desa Sawaran kulon pernah dipimpin dari orang – orang yang sangat bijaksana diantaranya
1. MARINEM
Merupakan pemimpin yang berasal dari dusun makam, beliau terkenal sangat bijaksana dan juga sangat sakti mandraguna konon katanya masyarakatnya makmur dan sejahtera
2. SRILA
Beliau juga berasal dari dusun makam dan menantu dari kepala desa sebelumnya dan beliau juga sangat sakti mandraguna. Ada cerita dari masyarakatnya kalau ada orang naik kuda lewat depan rumah beliau kalau tidak turun maka orang tersebut akan jatuh dari kudanya.
3. NURIWAN ( Dusun Darungan )
4. KASMIDIN ( Dusun Krajan )
5. REBIN ( Dusun Makam )
6. LUTAMI
Beliau berasal dari Dusun Makam dan juga paling lama menjabat sebagai kepala desa Sawaran Kulon yaitu 33 tahun
7. SUROYO ( 1991 – 2007 )
Beliau menjabat sebagai kapala desa selama 16 tahun
8. MUSTAKIM ( 2007 – Sekarang )



Nara Sumber Notulen


Sali Sentot

SEJARAH DESA CURAHPETUNG

Pada jaman dahulu kala disuatu curah yang lebat dengan tumbuhan bambu petung tinggallah seorang pendatang yang berasal dari madura tinggal dicurah itu. Dan ahirnya mereka pun menetap di curah itu. Lama kelamaan mereka pun mulai berpikir dan mulai memanfaatkan apa yang ada dicurah itu. Mulai dari bercocok tanam untuk mereka makan dan mereka pun menjual atau menukar bambu petung dengan benda atau uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Di Desa ini konon masih memakai sistem barter dengan penduduk lain. Dari keturunan penduduk madura keturunan penduduk jawa pun juga ada, dan dengan itu baru mereka menjadikan suatu Desa dengan nama Desa Curahpetung dengan mengambil letak dan sumber penghasilan sehari-harinya.

Bulan demi bulan telah mereka lalui, dan ahirnya mereka pun mulai berpikir tentang adanya pemimpin. Barulah mereka memilih kepala Desa. Terpilihlah Pak Mansuri yang menjadi pemimpin pertama di Desa Curahpetung. Pada masa itu penduduk di Desa ini sudah mulai berkembang walaupun tempat tinggal mereka cuma dari sesek bambu dan berlantai tanah.

Tahun terus berganti sampailah pada pergantian kepala Desa yang kedua,dan terpilihlah Pak Salihen sebagai kepala Desa yang baru. Penduduk pun mulai bertambah dan Desa pun di bagi menjadi enam bagian yaitu, Krajan, Sumberjeding, Darungan Lor, Darungan Tengah, Darungan Kidul, dan Curahlengakong.

Curahpetung mempunyai dua curah yaitu antara Dusun Karjan dan Darungan Tengah, dan antara Dusun Darungan Kidul dan Curahlengkong. Karena mereka belum mengenal tentang bangunan ahirnya mereka membuat sebuah jembatan dari bambu.

Lima tahun telah dilewati, kepala Desa pun diganti oleh Pak Asan. Dengan hasil jerih payah kepala desa ahirnya terbangunlah dua jembatan tersebut. Dengan adanya jembatan ini penduduk desa Curahpetung lebih banyak berinteraksi dengan penduduk Desa lain.

Di periode berikutnya yaitu Pak Mad sebagai kepala Desa yang ke tiga. Barulah dibangun sebuah gedung sekolah untuk tingkatan sekolah dasar, walaupun masih dengan jalan tanah tapi guru maupun murid masih semangat untuk bersekolah. Dan walaupun Cuma dengan pakaian tanpa seragam dan ada sebagian yang tanpa alas kaki mereka masih punya semangat untuk belajar.

Barulah dipergantian kepala Desa berikutnya yaitu Pak Supik sebagai kepala desa yang keempat. Dari sini sebagian dusun Curahpetung jalannya sudah bermakadam walaupun cuma sebagian dan sebagian ada yang masih jalan tanah. Dan jalan aspalpun sudah terbangun. Yang pertama dibangun jalan aspal adalah jalan antara dusun krajan dan darungan tengah. Dan yang lain masih jalan tanah.

Dan pada masa pergantian kepala desa berikutnya Pak Supik diganti dengan Pak Muhammad sebagai kepala desa yang baru. Pada masa itu penduduk Curahpetung tidak ada perubahan, dan sampai ahirnya pergantian Keala Desa yang sekarang.



Nara Sumber Notulen



Mba. Sarep Totok Kuswoyo

SEJARAH DESA KEDUNGJAJANG

Pada masa kerajaan ada seseorang yang namanya tidak diketahui sangat sakti mandra guna dan kesaktiannya hamper tidak bisa diukur dengan apapun, pada suatu saat beliau pergi kesungai yang sekarang diberi nama KALI JUWET, melihat sungai yang sangat dalam timbul dihati beliau untuk mengukurnya/menjajaki sungai yang berbentuk kedung dengan selonjor bambu/pring jajang. Maksudnya ialah kalau hati manusia tidak bisa diukur dengan apapun namun dalamnya sungai masih bisa dijajaki. Dari cerita inilah desa/kampong ini diberi nama “ KEDUNGJAJANG “ yang kata kedung diambil dari sungai yang berbentuk KEDUNG dan Jajang diambil dari tancapan PRENGJAJANG.
Pada masa kerajaan desa/kampung Kedugjajang jauh dari kemakmuran dan kesejahteraan sehingga muncul dari hati para turunan – turunan raja untuk memimpin dengan tujuan untuk mensejahterahkan masyarakatnya pada zaman itu.
1. Masa pimpinan MBAH RATIJEM ( I – 1841 )
Beliau merupakan pemimpin pertama dari desa kedungjajang dimasa kerajaan nama asli beliau adalah R. MULJO MUSTAFA/MBAH SELAMET orang pertama yang menginginkan rakyat Kedungjajang makmur dan sejahtera. Setelah meninggal pada tahun 1841 kepemimpinan diambil alih oleh putranya.

2. Masa pimpinan ENDRO NURDIN ( 1841 – 1872 )
Kepemimpinan beliau adalah dari zaman kerajaan menjadi zaman kepatihan, beliau sempat memimpin selama 31 tahun yang meneruskan kepemimpinan dari bapaknya R. Muljo Mustafa.

3.Masa pimpinan JUMALIT ( 1872 – 1905 )
Dengan meninggalnya Endro Nurdin pada tahun 1872 untuk kepemimpinan desa Kedungjajang digantikan oleh Jumalit yang merupakan adik kandung dari Endro Nurdin, beliau memimpin masih dizaman kepatihan selama 33 tahun. Pada tahun 1905 beliau juga meninggal dunia dan kepemimpinan diambil oleh putranya.

4.Masa pimpinana SINGOREDJO ( 1905 – 1935 )
Beliau memimpin di zaman kepatihan sampai ke zaman penjajahan menggantikan kepemimpinan bapaknya. Dan beliau memimpin selama 30 tahun
5.Masa pimpinan TOMODIHARDJO ( 1935 – 1955 )
Kepemimpinan beliau dimasa penjajahan sampai kemerdekaan, beliau memimpin selama 20 tahun. Setelah berakhirnya kepemimpinan Tomodihardjo tahun 1955 – 1956 ada kekosongan pemimpin karena pada waktu itu terjadi reformasi dari system pimpinan turun – menurun menjadi system pilihan rakyat.

6.Masa pimpinan MASNAWI ( 1956 – 1965 )
Sebelum memimpin beliau dulunya menjadi CARIK dari kepemimpinan Singoredjo dan Tomodihardjo dan beliau sekaligus merupakan pimpinan pertama desa Kedungjajang yang langsung dipilih rakyat, namun Cuma menjabat 9 tahun karena pada waktu itu terjadi pemutihan ( SECRENING PARTAI ) oleh pemuda “ 66 “

7.Masa pimpinan KROMOSARI ( 1966 – 1968 )
Setelah adanya pemutihan ( SECRENING PARTAI ) diakhir tahun 1965 oleh pemuda “ 66 “ untuk kepemimpinan kosong, karena kekosongan tersebut rakyat menunjuk langsung tampa pemilihan Kromosari sebagai pemimpin sementara desa Kedungjajang.

8.Masa pimpinan H. DJOJO SANTOSO ( 1968 – 1999 )
Beliau memimpin dimasa Orde Baru selama 31 tahun, pada masanya desa Kedungjajang pernah mengalami masa kejayaan, sehingga pada tahun 1992 melepaskan diri dari kecamatan Klakah.

9.Masa pimpinan JUBAT HARIYANTO ( 1999 – 2006 )

10.Masa pimpinan RADIYAL ( 2006 – Sekarang )

Narasumber Notulen


Bp. SABAR SAMSUL ARIFIN

SEJARAH DESA PANDANSARI

Pada jaman dahulu ada sebuah hutan belantara yang mana dihutan tersebut banyak di tumbuhi pohon pandan yang sudah tua dan berbunga, pohonnya pun besar sekali karena sudah berumur ratusan tahun. Pada saat itu terdapat sekelompok orang yang berjumlah 27 orang, diantaranya ada salah satu yang diangkat pemimpin yang bernama “Pak Sarno” beliau mengajak rakyatnya membabat hutan tersebut menjadi sebuah desa dengan cara membuat rumah-rumah yang terbuat dari Batang pohon pandan yang sudah tua untuk dijadikan tiang rumah dan atapnya terbuat dari ilalang yang sudah kering.
Pak Sarno menjabat sebagai kepala desa berhasil menciptakan sebuah desa yang bernama “PANDANSARI” yang artinya karena rumah-rumah penduduk terbuat dari pohon pandan, maka muncullah nama “Pandan”, sedangkan “Sari” yaitu karena pandan tersebut berbunga dan bunganya harum sekali maka dari harumnya bunga padan tersebut muncul nama Sari atau Harum maka jadilah nama “DESA PANDANSARI”
Pak Sarno dengan 26 penduduk lainnya bertempat di dusun yang sekarang diberi nama dusun Bukhol dengan bahasa sehari-hari adalah bahasa jawa dan Pandansari masih ikut Kecamatan Umbul.
Setelah berjalan beberapa tahun masa Jabatan Pak Sarno penduduknya semakin bertambah menjadi 70 orang, kemudian Pak Sarno meninggal dunia dan jabatan lurahnya digantikan oleh putranya yang pertama bernama Pak Martosari, beliau menjadi lurah yang kedua. Pak Martosari mempunyai adik yang bernama Pak Parni. Pak Parni putra dari Pak Parno yang kedua. Pak Parni mempunyai ide membuat saluran air untuk membuat tanah persawahan, ternyata Pak Parni berhasil membuatnya dan dijadikan Tuwowo oleh Pak Martosari kakanya yang menjabat Lurah.
Tuwowo nama karenanya sekarang HIPA. Sampai sekarang saluran tersebut masih dipergunakan untuk persawahan yang ada di desa Pandansari. Setelah lurah yang kedua barulah system yang dipakai cara pemilihan, pada waktu itu yang terpilih adalah Pak Saninten sebagai lurah ke 3 (tiga).
Lurah yang ke 4 (empat) adalah Pak Mistija bertempat tinggal didusun Tugulasi, lurah yang ke 5 (lima) adalah Pak Jamin bertempat tinggal di Dusun Krajan, lurah yang ke 6 (enam) adalah Pak Janinten betempat tinggal didusun Tugulasi, lurah yang ke 7 (tujuh) adalah Pak Murjani bertempat tinggal di Dusun Krajan, lurah yang ke 8 (delapan) Pak Hayat bertempat tinggal di Dusun Mrutu, Lurah yang 9 (sembilan) adalah Pak Murnawi bertempat tinggal didusun Krajan, lurah yang ke 10 (sepuluh) adalah pak Tiyama bertempat tinggal di dusun Bukhol, lurah yang ke 11 (sebelas) adalah Kiyai Ari bertempat tinggal di dusun Tugulasi, pada masa jabatan kiyai Ari baru diketahui pada masa gerilya sekitar tahun 1945. lurah yang ke 12 (duabelas) adalah Pak Liatun bertempat tinggal di dusun krajan, pada masa Pak Liatun Indonesia sudah merdeka. Kepala Desa yang ke 13 (tiga belas) Karyo Rejo bertempat tinggal di dusun Krajan beliau menjabat sebagai kepala desa selama 32 tahun dari tahun 1959 sampai degan tahun 1990.
Kepala Desa yang ke 14 (empat belas) Mulyadi bertempat tinggal di dusun Krajan beliau adalah cucu dari Karyo Rejo, Mulyadi menjabat sebagai Kepala Desa dari tahun 1990 sampai dengan 2006
Kepala Desa yang ke 15 (Lima belas) Pait Hariyanto bertempat tinggal di Dusun Bukhol masa jabatannya dari tahun 2006 sampai tahun 20012. demikian sekilas sejarah desa Pandansari Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang.

Nara Sumber :
1. Pak Tiham Tokoh Masyarakat
2. Kasun Krajan Warlis Supapto
3. Sekretaris Desa Haji Armam Tauhi

SEJARAH DESA KRASAK

Dijaman dahulu sebelum ter ciptanya desa krasak yang seperti sekarang ini desa krasak adalah sebuah hutan yang kemudian di babat oleh seorang yang bernama ki buyut Darmo namun di kemudian hari ki buyut darmo pindah ke daerah lain dan menyerahkan hasil babatannya itu ke adik beliau yang bernama ki wiro yang akhirnya ki wiro inilah yang di angkat menjadi kades pertama di desa krasak dan di panggil dengan ki lurah wiro.
Dan pada saat itu ki lurah wiro mendapatkan infentaris se ekor kuda untuk alat transportasi keliling kampung dan ki lurah wiro ini mempunyai sebuah pusaka ampuh yang berupa cambuk atau cemeti yang konon ceritanya bisa menyembuhkan orang yang di gigit ular walau separah apapun hingga pada suatu hari di saat ki lurah wiro keliling kampung ada seorang warganya di gigit ular dan menurut ceritanya orang itu sampai meningal dan setelah itu ki wiro memukulkan cambuknya ke arah warganya yang mati di gigit ular itu3x dan tiba tiba orang itu bangun dan sembuh seperti tidak pernah ter jadi apa apa pada dirinya dan walawpun hal itu tidak masuk akal tapi kemungkinan orang yang di gigit ular itu masih belum betul betul mati mungkin Cuma pingsan atau kelenger
Dan sedangkan desanya di namakan desa krasak karena di situ ada pohon yang sangat besar dan angker dan pohon tersebut di namakan pohon krasak karena memang di desa itu terdiri dari dua suku yatu suku madura /pendatang dan suku jawa /penduduk asli yang mana nama kerasak adalah perpaduan keras yang di ambil dari bahasa jawa dan di tujukan ke orong madura yang artinya sifatnya keras, sak di ambil dari bahasa madura yaitu tak sak kasak dan di tujukan ke orang jawa yang artinya tidak pernah membuat keramaian dan setela beberapa tahun kemudian ki lurah wiro berhenti menjadi lurah karena usianya yang sudah lanjut dan akhirnya di adakan pil kades ke dua di desa krasak sehingga terpilihlah kades ke dua yaitu ki lurah mokali yang ter kenal dengan kebijaksanaan dan kedermawanannya.

Sehingga akhirnya di usianya yang agak lanjut maka ki lurah mokali beserta masyarakat mengadakan pilkades dan terpilihlah orang yang sangat bijaksana yang bernama Ki Sumo Rejo atau Ki Lurah Sumo Rejo dan kades ketiga inipun tidak jauh berbeda dengan kades kedua. Kades Ki Sumo Rejo sangat disukai oleh warganya namun dengan usianya yang sudah Tua dan tidak memungkinkan untuk mempimpin masyarakat, maka diadakan kembali Pilkades dengan 6 orang calon dan akhirnya yang terpilih adalah seorang yang bernama Rateman yang terkenal dengan keberaniannya dan kecerdasannya.
Namun Kades Rateman tidak bisa memimpin desa Krasak seperti yang inginkan oleh masyarakat karena di usianya yang masih muda dan gagah-gagahnya sebagai seorang pemimpin, Kades Rateman meninggal Dunia diusianya yang masih 45 tahun yaitu pada tahun 1965 dan dengan wafatnya Kades Rateman maka kepemimpinan kades desa Krasak diserahkan kepada Sekdes yang bernama Bapak Carek Niti yang hanya bisa memimpin selama dua Tahun yaitu sampai tahun 1967
Setelah itu untuk keamanan masyarakat pasca G 30- S PKI dan DORBOK maka desa Krasak di pimpin oleh oknum Tentara yang bernama Kolonel Natrip selama 10 tahun yaitu sampai tahun 1977 dan digantikan kepada rekannya yang bernama Letkol Asir dan Letkol Asir inipun tidak jauh berbeda dengan Kolonel Natrip yaitu memimpin desa Krasak selama 10 tahun yaitu sampai tahun1987.
Kemudian diadakan Pilkades lagi dan terpilihlah seorang yang bernama Muhammad Yaitu Kades Muhammad yang memimpin desa Krasak selama 8 tahun hingga tahun 1994 kemudian diadakan Pilkades lagi terpilihlah bapak Buyan sebagai Kades Desa Krasak sampai dengan tahun 2001 dan karena Kades Buyan terkenal dengan bisa dipercaya dan bijaksana, serta jujur maka Kades Buyan terpilih untu yang kedua kalinya jadi Kades Desa Krasak.
Karena Kades Buyan sudah 2 (dua) periode menjabat sebagai Kades dan tidak bisa mencalonkan lagi maka Istri dari Kades Buyan yang bernama Ny Antik atau lebih dikenal dengan Bu Kades Antik Aminati sampai dengan sekarang.

Nara Sumber Notulen


Muhammad Tohir Anas Mahfudh

SEJARAH DESA UMBUL

Pada dahulu kala ada seorang penduduk asli yang bernama Pak Truno yang sedang membuka lahan (Babat Alas) di dusun Darungan, untuk sebagai tempat sementara namanya Darung sehingga tempat tersebut di beri nama “DARUNGAN”. Sedangkan asal usul dusun Sengonan adalah Pak Truno yang menanam pohon sengon di suatu tempat dalam jumlah yang banyak sehingga tempat tersebut di beri nama dusun “SENGONAN”. Dan asal usul dusun Lor Kebon adalah di dusun tersebut terdapat kebun jarak, karena dusun itu letaknya di sebelah utara kebun jarak tersebut maka dinamailah dusun “LOR KEBON”. Dusun Lor Kebon di bagi menjadi 2 (dua) blok yaitu blok Lor Kebon dan blok Wedian. Nama Wedian (pasir) juga memiliki sejarah yaitu ada rakyat yang menambang pasir atau wedi di halaman rumah sehingga daerah tersebut dinamakan Wedian. Lalu asal usul nama Desa Umbul sendiri adalah pada jaman dahulu ada sumber air yang keluar dari tanah langsung (MUMBUL) sehingga dinamakan “DESA UMBUL”

Sejarah pemerintahan di desa Umbul sampai dengan sekarang ini telah mengalami beberapa pergantian pemimpin (Kepala Desa). Nama-nama pemimpin yang telah memimpin Desa Umbul adalah sbb. :

2. Pak Karyorejo
3. Pak Tiam
Pak Tiam ini adalah seoarang yang buta huruf sehingga pembangunan di desa ini berjalan lambat. Selama Pak Tiam memimpin ada warga Umbul yang bernama Tabjuri yang bekerja sebagai buruh panen, lalu dijadikan Carik Umbul. Dan diajari tanda tangan Pak Kades Tiam sehingga semua yang butuh tanda tangan Pak Kades. Pak Tabjurilah yang mengerjakannya.
4. Pak Tabjuri
Tahun 1950 Tabjuri diangkat menjadi Kades Umbul. Pak Tabjuri ini dulu sangat wibawa sehingga semua rakyat patuh kepadanya.pada masa kepemimpinannya telah berhasil membangun jalan dari dusun Darungan hingga Dusun Krajan yang dulunya berupa rawa-rawa menjadi keras dan dapat dilewati kendaran sehingga pembangunan di desa Umbul mendekati maju. Kepemimpinan Pak Tabjuri berlangsung dari tahun 1950-1966. dan pada tahun 1967 jadi lagi sampai dengan tahun 1990.


5. Pak Tajab
Menjabat kepala desa selama 1 (satu) tahun, 10 (sepuluh) bulan pada tahun 1991 karena ada masalah kemudian digantikan oleh pejabat sementara dari Kecamatan yang bernama Sudarman s/d tahun 1994
6. Pak Sutopo
Menjabat sebagai Kepala Desa selama 2 (dua) periode dari tahun 1994 sampai tahun 2007 di bawah kepemimpinannya desa Umbul adalah banyak mengalami kemajuan dan perubahan mulai dari masuknya listrik (PLN) pengaspalan jalan desa
7. Pak Totok Yulianto
Mulai menjabat kepala desa pada bulan Agustus 2007 demikianlah sejarah singkat Desa Umbul Sampai dengan saat ini



Nara Sumber Notulen


H. Maskur Darul Hidayanto

SEJARAH DESA GROBOGAN

Desa grobogan diambil dari nama bukit biasa disebut gunung oleh masyarakat sekitar yaitu gunung Grobogan.
Awal ceritanya, pada zaman dahulu hidup sepasang suami istri yang suka bersemedi atau bertapa diatas sebuah bukit/gunung. Konon menurut cerita kakek tersebut bernama “ EYANG SINDU BROMO” sesuai dengan adanya makam sampai saat ini masih terawatt dengan baik yang berada diatas Gunung Grobogan. Pada suatu malam dalam semedinya sang kakek bermimpi melihat bahwa didalam gunung yng dipkai sang kakek bersemedi terdapat sebuah peti yang sangat besar sekali atau dalam bahasa jawa kuno di sebut “ GROBOK” sang kakek melihat bahwa di dalam peti tersebut terdapat emas murni yang sangat banyak sekali.
Setelah bangun dari semedinya, sang kakek menceritakan kejadian yang dialami kepada istrinya. Keduanya gelisah, dan cemas memikirkan kejadian yang ada dalam semedinya tersebut. “Ini fisarat baik atau firasat buruk” seru sang kakek terdengar gelisah. “Sudahlah serahkan semuanya kepada Sang Hyang Widi (TUHAN YANG MAHA KUASA). Tambah sang istri untuk menenangkan hati suaminya.
Hari demi hari EYANG SINDU BROMO dan istrinya terus bersemedi, pada suatu hari Eyang Sindu Bromo jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tetapi sebelum meninggal Eyang Sindu Bromo berpesan pada istrinya bahwa jika nanti di kemudian hari disekitar gunung ini ramai dan terbentuk sebuah perkampungan maka berilah nama “DESA GROBOGAN”
Tersebarlah kabar tentang meninggalnya Eyang Sindu Bromo, maka masyarakat sekitar berbondong-bondong naik keatas gunung untuk meihat dan mnguburkan Eyang Sindu Bromo diatas gunung itu juga. Setelah pemakaman selesai istri Eyang Sindu Bromo menyampaikan wasiat dari suaminya kepada penduduk. Maka terciptalah sebuah desa yang diambil dari mimpi Eyang Sindu Bromo yang melihat Grobog didalam gunung yaitu DESA GROBOGAN seperti sekarang ini.

Nara Sumber : Mbah Kerto

Ditulis Oleh

Siari
TPK Desa Grobogan

SEJARAH DESA BENCE

Pada tahun 1915 ada dua (2) sosok tabib (Dukun) yang sangat terkenal ampuh dan sakti mondroguno keduanya berlainan jenis ia bernama : Tabib Moyo dan yang satu bernama Tabib Dina Maya. Mereka adalah pasangan yang pas dan harmonis. Mereka anak buangan yang hidupnya tak menentu karena tidak ayah dan ibunya ada di mana singkat cerita kedua tabib tersebut hidup sebatangkara tidak tahu entah kemana dan tidak pasti atas nasibnya. Seharian kerjanya hanya membabat hutan dan mereka hidup di sebuah gubuk reyot terbuat dari bamboo yang beratapkan rumput alang-alanag, letak gubuk tersebut di tepi sungai dan ditengah-tengah hutan yang sangat lebat dan gersang.
Pohon yang rindang, kini kering hanya ranting-rantingnya saja tanpa daun begitu pula hawa panas dan gersang, tak lama kemudian kedua manusia tersebut saling berhubungan dan saling mencinta. Hidup berdua di gubuk bamboo yang reyot itu.
Dari waktu ke waktu dari hari kehari ke bulan dari bulan ke tahun, mereka menjadi kelurga besar hidupnya tentram, damai bahkan mereka sampai punya anak dan cucu. Sehingga mereka di panggillah seorang kakek dan nenek dan juga mereka sering dipanggil dengan julukan “DINO MOYO”
Sekitar pada tahun 1932 si kakek tua itu mendapat musibah yang begitu tak terduga sebelumnya. Ia berbuat serong dengan tetangganya. Sehingga ia kabur meninggalkan anak istrinya serta kampong halaman yang di cintainya. Sang istri, anak, cucu kembali hidup tidak tenang dan mulai hancur berantakan bagaikan rontokan daun pohon yang kuning, begitupun sang istri juga kabur meninggalkan kampung halamannya dan meninggalkan anak cucunya. Sebelum mereka pergi mereka berpesan kepada anak cucunya “ Wahai anak dan cucuku kelak apabila kamu sudah dewasa (berkeluarga) tempat ini hutan ini berilah nama “DESA BENCE” dan pujalah aku di bawah pohon beringin sebutlah namaku “ DINOMOYO DESA BENCE”


Nara Sumber Notulen


Mistar I’in
Ketua TPK Desa Bence

SEJARAH DESA BANDARAN

Disaat pertama kali yang Babat Alas di suatu wilayah yang lokasinya di pegunungan, pada saat itu kira tahun 1934 ada satu orang yang pertama Ky Ageng Sukarso, orang yang penting bijaksana dan bertanggung jawab di segala bidang. Contohnya ada orang bertengkar tidak ada yang berani mengamankan permasalahan ini, kecuali Ky Ageng Sukarso. Maka dari itu beliau langsung dipilih sebagai pemimpin dulu dikatakan seorang Demang, Ky Ageng Sukarso ini terpilih dan diberi gelar sebagai pimpinan yaitu : “DEMANG KY AGENG SUKARSO” dan beliau langsung memilih seseoarng yang di jadikan wakilnya namanya : “NITI SAMITRO GENAMIN” kedua pemimpin ini menguasai wilayah pegunungan itu.

Dan juga kisahnya dulu ada satu rumah yang riot tinggal tinggal BLANDARNYA. Itu jadi patokan banyak orang misalnya apabila ada orang janjian dia bilang kutunggu di Blandaran jadi pada saat itu kedua pimpinan ini yang bernama “DEMANG KY AGENG SUKARSO dan Wakilnya “ NITI SAMITRO GENAMIN” mengumpulkan kepada orang-orang mengumumkan karena yang selalu menjadi kembang bibir semua orang-orang rumah yang tinggal BLANDAR nya wilayah tu dinamakan DESA BANDARAN.

Selama di pimpin beliau “DEMANG KY AGENG SUKARSO dan Wakilnya “ NITI SAMITRO GENAMIN” Desa Bandaran Aman, Tentram Sejahtera. Dan disaat lanjut usia Demang dan wakilnya maka diadakan pemilihan pimpinan bisa dikatakan “PILKADES” yang terpilih P.JO sebagai Kades dan sebagai Sekdes Bapak Suparman / Samat. Kira-kira tahun 1939 disaat dijajah Belanda.

Selain dari jajahan belanda masyarakatpun tidak aman. Ada yang adu domba sering terjadi kekisruhan dan pembunuhan dan yang memelihara ternak pun tidak aman karena banyak pencuri, akhirnya masyarakatpun menderita dan masyarakat memutuskan untuk mengadakan “PILKADES” lagi dan yang terpilih Bapak Ssparman/Samat sebagai Kades dan Pak Jaslan menjadi Sekdes. Desa Bandaran Aman, tentram kembali, beliau memegang jabatan selama 32 tahun sampai tahun 2000 PILKADES lagi yang terpilih Bapak Abdul Kapi dan Sekdesnya Nur Salam sampai saat ini Tahun 2007.

NARA SUMBER PENULIS




( SUJADI ASIM/MUDIN ) ( A’AN dan PRI )

SEJARAH DESA JATISARI

Jatisari adalah sebuah nama desa yang terletak antara desa Bence, Grobogan, Tempursari, Bandaran dan Desa Jeruk. Dulu Desa Jatisari ini adalah sebuah hutan belantara yang di tumbuhi banyak kayu jati. Kemudian ada dua kelompok orang yang datang ke hutan tersebut. Kelompok pertama datang dari suku madura dan kelompok kedua datang dari suku jawa. Kelompok pertama (suku madura) menempati disebelah barat dan kelompok kedua (suku jawa) menempati di sebelah timur. Didalam memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari mereka memanfaatkan kayu jati tersebut untuk di jual kepasar sebagai kayu baker. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun orang-orang yang datang kesana semakin banyak lalu mereka punya keinginan mengangkat seorang pemimpin dan memebri nama kelompok mereka, maka mereka mengadakan musyawarah antara kelompok barat dan timur. Dari hasil musyawarah tersebut disepakti disepakati seorang pemimpin dana nama dari kelompok mereka yaitu “JATI SARI”.

Jati sari adalah dua kata yang digabung menjadi satu yaitu “JATI” dan “SARI”. Jati adalah di ambil dari sebuah nama hutan yang mereka tempati yaitu hutan jati. Sari diambil dari penghasilan mereka dalam menghidupi keluarganya yaitu dari kayu jati, penghasilan mereka tersebut dinamakan sari dari kayu jati. Lslu dua kata tersebut mereka gabungkan menjadi satu yaitu: “JATI SARI”.

Kelompok pertama yaitu yang datang dari suku madura sekarang menempati di dusun Darungan satu dan Darungan dua, yang mana mereka berbahasa Madura dan kelompok kedua yang datang dari suku jawa sekarang menempati di Dusun Jati dan Dsn Krajan yang mana mereka berbahasa jawa.

Sampai saat ini Desa Jatisari telah dipimpin oleh 4 Pemimpin definitif yaitu :
1. Bapak Markoyo
2. Bapak Kerto Joyo / Bapak Madun
3. Bapak H. Abdul Hadi
4. Bapak Joko Suyono
Dan di pimpin oleh empat (4) pemimpin sementara yaitu:
1. Bapak Nursari / Said
2. Bapak Liyaton BZ
3. Bapak Indro
4. Bapak Rosad.
Mungkin ini Seklumit cerita asal usul Desa “JATI SARI” Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang kurang lebihnya mohon maaf.

NARA SUMBER PENULIS


( ABDUL AZIZ ) ( MOH. SHOLEH )

SEJARAH DESA WONOREJO

Sejarah Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang adalah bermula dari sebuah hutan belantara atau sering disebut dengan alas yang mana dalam istilah kuno disebut WONO . Dan kata REJO mempunyai arti ramai dalam artian tidak terisolir, sehingga kedua kata tersebut diatas digabungkan menjadi stu yang sampai saat ini menjadi sebuah nama desa yaitu WONOREJO
Dapat dikatakan suatudaerah atau wilayah jika memiliki seorang pemimpin / Kepala begitu juga dengan Desa Wonorejo. Berhubung desa tersebut dikenal maka pemimpinnya dikenal dengan nama Kepala Desa. Oleh sebab itu, pemimpin atau Kepala Desa yang pernah menjadi pemimpin atau Kepala Desa Wonorejo diantaranya adalah :
1. Bapak Min Alm. Kepala Desa Pertama
2. Bapak RUKIYAH Alm. Kepala Desa Kedua
3. Bapak KENIK Alm. Kepala Desa Ketiga
4. Bapak BURADEN Alm. Kepala Desa Keempat
5. Bapak SASTRO WIJOYO Alm. Kepala Desa Kelima
6. Bapak ABDUL KAYAT Kepala Desa Keenam
Menjabat pada tahun 1973 s/d 1984
7. Bapak SOEDARTO Alm. Kepala Desa Ketujuh
Menjabat pada tahun 1984 s/d 1997
8. Bapak MUKLI Alm. Kepala Desa Kedelapan
Menjabat pada tahun 1997 s/d 2002
9. Bapak SYAHRUL ROKHMAN Kepala Desa Kesembilan
Menjabat pada tahun 2002 s/d 2007
10. Bapak NATRIP Kepala Desa Kesepuluh
Menjabat pada tahun 2007 s/d sekarang.