SELAMAT DATANG DI WEBSITE DESA WONOREJO KECAMATAN KEDUNGJAJANG KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR 67358

Tuesday, September 4, 2012

SEJARAH DESA PANDANSARI

Pada jaman dahulu ada sebuah hutan belantara yang mana dihutan tersebut banyak di tumbuhi pohon pandan yang sudah tua dan berbunga, pohonnya pun besar sekali karena sudah berumur ratusan tahun. Pada saat itu terdapat sekelompok orang yang berjumlah 27 orang, diantaranya ada salah satu yang diangkat pemimpin yang bernama “Pak Sarno” beliau mengajak rakyatnya membabat hutan tersebut menjadi sebuah desa dengan cara membuat rumah-rumah yang terbuat dari Batang pohon pandan yang sudah tua untuk dijadikan tiang rumah dan atapnya terbuat dari ilalang yang sudah kering.
Pak Sarno menjabat sebagai kepala desa berhasil menciptakan sebuah desa yang bernama “PANDANSARI” yang artinya karena rumah-rumah penduduk terbuat dari pohon pandan, maka muncullah nama “Pandan”, sedangkan “Sari” yaitu karena pandan tersebut berbunga dan bunganya harum sekali maka dari harumnya bunga padan tersebut muncul nama Sari atau Harum maka jadilah nama “DESA PANDANSARI”
Pak Sarno dengan 26 penduduk lainnya bertempat di dusun yang sekarang diberi nama dusun Bukhol dengan bahasa sehari-hari adalah bahasa jawa dan Pandansari masih ikut Kecamatan Umbul.
Setelah berjalan beberapa tahun masa Jabatan Pak Sarno penduduknya semakin bertambah menjadi 70 orang, kemudian Pak Sarno meninggal dunia dan jabatan lurahnya digantikan oleh putranya yang pertama bernama Pak Martosari, beliau menjadi lurah yang kedua. Pak Martosari mempunyai adik yang bernama Pak Parni. Pak Parni putra dari Pak Parno yang kedua. Pak Parni mempunyai ide membuat saluran air untuk membuat tanah persawahan, ternyata Pak Parni berhasil membuatnya dan dijadikan Tuwowo oleh Pak Martosari kakanya yang menjabat Lurah.
Tuwowo nama karenanya sekarang HIPA. Sampai sekarang saluran tersebut masih dipergunakan untuk persawahan yang ada di desa Pandansari. Setelah lurah yang kedua barulah system yang dipakai cara pemilihan, pada waktu itu yang terpilih adalah Pak Saninten sebagai lurah ke 3 (tiga).
Lurah yang ke 4 (empat) adalah Pak Mistija bertempat tinggal didusun Tugulasi, lurah yang ke 5 (lima) adalah Pak Jamin bertempat tinggal di Dusun Krajan, lurah yang ke 6 (enam) adalah Pak Janinten betempat tinggal didusun Tugulasi, lurah yang ke 7 (tujuh) adalah Pak Murjani bertempat tinggal di Dusun Krajan, lurah yang ke 8 (delapan) Pak Hayat bertempat tinggal di Dusun Mrutu, Lurah yang 9 (sembilan) adalah Pak Murnawi bertempat tinggal didusun Krajan, lurah yang ke 10 (sepuluh) adalah pak Tiyama bertempat tinggal di dusun Bukhol, lurah yang ke 11 (sebelas) adalah Kiyai Ari bertempat tinggal di dusun Tugulasi, pada masa jabatan kiyai Ari baru diketahui pada masa gerilya sekitar tahun 1945. lurah yang ke 12 (duabelas) adalah Pak Liatun bertempat tinggal di dusun krajan, pada masa Pak Liatun Indonesia sudah merdeka. Kepala Desa yang ke 13 (tiga belas) Karyo Rejo bertempat tinggal di dusun Krajan beliau menjabat sebagai kepala desa selama 32 tahun dari tahun 1959 sampai degan tahun 1990.
Kepala Desa yang ke 14 (empat belas) Mulyadi bertempat tinggal di dusun Krajan beliau adalah cucu dari Karyo Rejo, Mulyadi menjabat sebagai Kepala Desa dari tahun 1990 sampai dengan 2006
Kepala Desa yang ke 15 (Lima belas) Pait Hariyanto bertempat tinggal di Dusun Bukhol masa jabatannya dari tahun 2006 sampai tahun 20012. demikian sekilas sejarah desa Pandansari Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang.

Nara Sumber :
1. Pak Tiham Tokoh Masyarakat
2. Kasun Krajan Warlis Supapto
3. Sekretaris Desa Haji Armam Tauhi

No comments:

Post a Comment

Post a Comment