SELAMAT DATANG DI WEBSITE DESA WONOREJO KECAMATAN KEDUNGJAJANG KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR 67358
Showing posts with label PROFIL. Show all posts
Showing posts with label PROFIL. Show all posts

Tuesday, September 11, 2012

MENYIMAK SEJARAH NYI RORO KIDUL

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul. Disebut-sebut bahwa dia adalah sosok perempuan cantik yang menguasai Pantai Selatan. Banyak versi yang beredar di masyarakat mengenaLI sosok Astral satu ini. Namun, saya sendiri tidak mengetahui secara pasti siapa dan bagaimana kisah sebenarnya di Nyi Roro Kidul. Namun, sebagai orang Jawa, saya mempercayai bahwa Nyi Roro Kidul memang ada dan erat kaitannya dengan Keraton Jogjakarta.

Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi. Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Thursday, September 6, 2012

KURSUS PRA NIKAH

Menikah bukan soal main-main dengan orientasi “ kebelet” kalau dengan orientasi ini saja yakinlah bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hal itu muncul karena letupan-letupan syahwat yang tidak bias di bendung, karenanya nabi memberikan solusi “shoum”yang berarti berpuasa bagi orang yang belum mampu untuk menikah.

Mungkin pertanyaan ini sering di kemukakan kepada anda, apalagi bila anda sudah mencukupi baik dari sisi umur, kematangan dan pekerjaan.

Menikah bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang sakral dan sebagian yang lain menganggap peristiwa yang biasa atau hanya sekedar trend saja. Menikah sebagai sesuatu yang bernilai sakral, kerena mereka meyakini bahwa pernikahan bukan hanya sebagai legalitas formal tapi sebagai awal dalam pembentukan rumah tangga atau keluarga baru.
Dan lebih jauh dari itu yaitu pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Adapun yang menganggap menikah sebagai peristiwa yang biasa dan ternd saja, mereka beranggapan bahwa pernikahan sebagai unjuk kemewahan, hanya sebagai formalitas belaka dan tentu anggapan ini jauh dari nilai sakral. Dengan anggapan seperti ini maka perceraian pun merupakan soal yang lumrah dan biasa, bahkan menjadi trend dimana bila sudah terjadi ketidak cocokan dengan pasangannya mereka tinggal mengajukan cerai ke Pengadilan.

Dalam statistik Pernikahan di Indonesia ( 2010 ) setiap tahun pernikahan yang tercatat rata – rata 2 juta pasang, ironisnya hal ini juga diikuti dengan angka perceraian yang sungguh fantastis yang mencapai rata rata 200 ribu pasang atau sekitar 10 % dari peristiwa nikah.

Menurut hemat saya, dalam pernikahan kita akan melalui 2 proses yaitu Pra Nikah dan Pasca Nikah.

Yang Pertama, Pra Nikah adalah proses awal memasuki jenjang pernikahan dimana pada masa ini anda mulai memantapkan hati untuk menikah, menetukan visi, misi dan orientasi, mempelajari aturan aturan Hukum sosial Negara dan Agama dan aturan aturan mendalam dunia rumah tangga atau keluarga kemudian baru menjatuhkan pilihan kepada siapa cinta akan di labuhkan

Jadi menikah bukan soal main – main dengan orientasi “ kebelet” sebagaimana yang saya katakan tadi, kalau hanya dengan orientasi ini saja, yakinlah bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Hal itu muncul karena letupan – letupan syahwat yang tidak bisa dibendung, karenanya nabi memberikan solusi ‘ shoum” yang berarti berpuasa bagi orang yang belum mampu untuk menikah

Jadi pertanyaan kapan anda menikah? Maka alangkah baiknya bila anda sudah memahami dunia rumah tangga yang salah satu caranya adalah mengikuti kursus pra-nikah SUSCATIN / Kursus Calon Pengantin. Dalam suscatin ini anda akan diberi Wawasan baik dari segi Agama, maupun Sosial Kemasyarakatan. Semoga Bermanfaat